Uncategorized

Ketagihan ngeGAME…. Awas!

game003

Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB anak lelakinya belum pulang sejak di suruh sang ibu membeli nasi goreng dari jam 19.00 WIB padahal warung abang nasi goreng tidak jauh dari tempat tinggalnya . Terlihat ekspresi wajah Ibu marah dengan memakai baju kebesarannya yang biasa kita sebut daster itu terlihat membawa gagang sapu menuju sebuah tempat yang ramai akan ABG dan bahkan anak-anak yang masih berusia sekitar 8 tahun ikut meramaikan warnet – game online. Pintu warnet – game online di buka dengan penuh luapan emosi “BRAAAK”! Beliau bertriak memanggil sang anak yang kala itu lagi asyik main game, sang anakpun kaget kalau Ibunya datang.

Sambil memegang sapu Ibu memarahi sang anak sampai-sampai keluarlah sumpah serapah sang Ibu ‘kalau gak lama lagi akan bangkrut usaha warnet – game online ini’! Di tempat yang berbeda seorang anak yang kala itu berusia 9 tahun sedang di todong temannya. Temannya tersebut menaggih uang taruhan karena kalah duel di warnet – game online. Sang anakpun ketakutan kalau nanti dia tidak membayar uang taruhan dia akan di bully terus-terusan, sang anakpun menjanjikan akan membayarnya besok.

Keesokan harinya di pagi hari si anak dengan diam-diam ke kamar orang tuanya untuk mengambil uang di tas ibunya tanpa izin, dan aksinya pun berhasil. Ternyata pengambilan uang tanpa izin sudah sering dilakukan oleh si anak. Banyak faktor yang memaksa dia untuk mengambil uang dari tas ibunya tanpa izin misalnya uang jajannya selalu kurang untuk bermain di warnet – game online selama berjam-jam lamanya, belum lagi kalau sekelompok temannya memaksa untuk mengajaknya bermain warnet – game online tanpa kenal waktu. Bahkan anak tersebut sering membolos sekolah dan lebih memilih bermain di warnet – game online.

Sambil menangis, seorang ibu menceritakan tentang anak kandungnya di acara seminar parenting beberapa tahun yang lalu, betapa game telah merusak karakternya. Anak Ibu itu Laki-laki usianya 30 tahun sudah menikah dan punya anak. Ibu tersebut sering tidak tega, melihat menantunya bekerja membereskan rumah serta mengurus anak sendirian di hari minggu sedangkan sang anak setiap hari minggu kerjanya hanya main game online saja. Kalau dinasehati sang Ibu si anak pasti bilang “Ah.. biarin itu tugas dia sebagai isteri mengurus anak dan rumah tangga” (dia pikir nikah ama PRT kali yeee, meding PRT ada gajinya hehehe).

Sang Ibu khawatir mau di bawa kemana bahtera rumah tangga ini kalau anaknya itu lebih mementingkan game onlinenya daripada anak dan isterinya. Dari kesimpulan diatas, game online adalah candu buruk untuk generasi muda saat ini. Dalam game online kita tidak mengetahui seperti apa atau siapa orang di balik karakter yang ada di gamenya, apakah dia sudah cukup usia atau malah masih anak-anak sehingga komunikasi yang dilakukan di pukul rata, bercanda ala orang dewasa, berbicara kasar pun menjadi hal yang lazim dalam game online, bahkan game online mampu membuat kehidupan tidak karuan.

Kenapa game online jika menjadi candu berakibat membuat stabilitas kehidupan tidak karuan ? Karena menurut pengamatan saya, dimana orang tersebut di dunia nyata tertekan, lalu meluapkan seluruh beban nya di game online seperti itu dan berlanjut. Dia akan lari dari kenyataan untuk menghindari persoalan kemudian berekspresi di game online, dimana mereka tertutup identitas mereka.

Mereka bebas dengan apa yang mereka lakukan di game, maka orang tersebut akan lebih memilih bersosial ria di game, dan lebih mengutamakan game di banding dengan kegiatan nya di kehidupan nyata.

Contoh lain efek candu yang buruk adalah anak-anak sekolah yang lebih suka membolos dan bermain game online di banding belajar di sekolah. Candu buruknya hampir sama dengan orang yang strees atau depressi lalu menggunakan narkoba sebagai pelarianya dan menemukan sensasi berfantasi yang luar biasa, hanya saja Narkoba adalah candu yang dampak lebih pada kesehatan sedangkan game online lebih pada mental atau cara berfikir, namun keduanya memiliki dua kesamaan yaitu menimbulkan efek kecanduan yang buruk dan antisosial meskipun pengaruhnya tidak se ekstrim narkoba tetapi bisa jadi lebih merusak.

Menurut hasil seminar dari pembicara ustadz miftahul jinan yang pernah saya hadiri, kalau game sudah menjadi karakter maka hanya kekuatan Doalah yang bisa. Tapi jika itu belum sempat menjadi karakter maka tugas kita sebagai orang tualah yang meluruskan jalan anak kita ke jalan yang benar supaya game itu tidak menjadi karakter beberapa ini adalah tips cara mengatasinya :

Membuat peraturan waktu kapan boleh main game dan syaratnya di rumah
Orang tua berhak tau game apakah yang dimainkan oleh anak kita apakah itu mengandung unsur kekerasan ataupun unsur pornografi
Beri perhatian sentuh hatinya, mungkin anak yang lari ke warnet game online kekurangan kasih sayang dari orangtua
Membantu mengalihkan perhatian anak, supaya anak kita mau bergerak di luar rumah misalkan dengan bersepeda, berenang, berkebun dll
Ini juga sebuah peringatan buat saya kelak saya akan membesarkan anak-anak saya dengan kemajuan teknologi yang lebih maju daripada masa saya sekarang, jadi jangan malas-malas untuk mengupdate info supaya kelak saya dan anak-anak saya bisa bergandengan bersama-sama dalam memilih sebuah permainan online.

Saya juga bingung kenapa beberapa anak-anak belum cukup usia dan orang cukup usia senang sekali dengan game yang berbau kekerasan apa gak malah strees ya?

Padahal menurut saya, esensi dari game hanyalah sebuah alat rekreasi yang murah. kenapa harus main yang menambah pikiran capek? Pening eike cyiiin….

Have a wonderfully mak….

Leave a Reply

Required fields are marked*